Disusun dan digambar oleh Ida Shri Bhawati  Dalem Murti Nawa Natha

Kedhatuan Kawista – Belatungan – Pupuan – Tabanan

 

Om Awighnamastu namo siddhi,

Semoga menemukan kebahagiaan dan kesempurnaan,

 

Pada jaman dahulu kala Gunung Tampur Hyang adalah Gunung berapi yang sangat aktiv, disebut dalam purana adalah dapur api yang membakar roh-roh jahat, tempat semua roh-roh jahat dibakaratau disucikan dalam lontar disebut Hyang Aghni cala. Pada tahun “wak sasi wak “ meletus gunung ini dengan dahsyatnya disebut Mmbah ghni ludira, banyakkorban di Bali, hanya  ada beberapa orang yang masih hidup, serta bhumi Bali mengalami kekeringan yang sangat hebat, sumber-sumber air tidak ada, manusia yang menempati Bali terpaksa mengungsi ke pinggir laut untuk dapat minum air laut, sangat sedihlah keadaan Bali, situasi ini mengundang keprihatinan Sanghyang Tampurhyang dengan kekuatan samadhinya keluar air muncar dari dalam belahan batu, yang diberinama Tirta Manik Muncar. Setelah air ini ada, beberapapengikut Sanghyang Tampuhyang kegirangan, serta merta meminum air tersebut  dan menjadikan kuat adanya dan demikian sakti-saktinya masyarakat disini, daerah ini lalu diberi nama oleh Sanhyang Tampurhyang “ Bala Tandingan “ dan airnya lagi ditaruh di dua  kendi labu dan Sanghyang Tampurhyang memanggil istri dan putranya yang diikuti oleh beberapa kula/abdinya menghadap Sanghyang tampurhyang, mengahaturkan sembah-bhakti, lalu berbincang-bincang bersama istri dan putranya, untuk membawa air keliling Bali, dalam perbincangan dengan istrinya yaitu I Ratu Ayu MasMmbah dan putranya I Ratu Gede Nengah menawarkan diri untuk membawa air dengan dijual untuk menguji ketulusan masyarakat Bali yang masih tersisa hidup dari bencana meletusnya Gunung Tampurhyang, diputuskan yang menjual air adalah Ratu Ayu MasMmbah, tetapi putranya memprotes bagaimana seorang wanita muda dan cantik menjual air, nanti kuatir terjadi masalah yang tidak dikehendaki, tetapi keputusan Sanghyang TampurHyang tetap yang menjual air adalah istrinya Ratu Ayu MasMmbah, dijadikan wanita tua renta  yang penuh dengan luka serta berbau busuk, dan air Tirta Manik Muncar terus mengalir menjadi besar diberi nama Danu Batur, karena dikelilingi oleh batu letusan Gunung Batur; lalu air di dalam dua buah labu (waluh), kemudian dipikul menuju arah timur laut(ngaja kanginang). Perjalanan diteruskan pada suatu tempat beliau termenung mau dijual kemana air ini, pada tempat beliau terdiam tersebut sekarang bernama pondokan mnng dan berdiri pura bernama Pura Puseh Mnng; sambil menawarkan air yang dibawanya, namun setiap menawarkan air selalu mendapat jawaban dari penduduk yang dilewati dan mengatakan untuk apa membeli air, karena disini sudah ada air laut; sampailah beliau di desa munti Gunung, untuk menawarkan air yang dibawanya, jangankan mau membeli air, tetapi justru mengejek orang wanita itu dengan ejekan menyinggung perasaan, Ratu Ayu Mas  lalu berkata : “Wahai orang Munti Gunung, engkau menghina aku, tidak tahu engkau kalau aku Bhatari Batur, istri Sanghyang Tampurhyang yang bersetana di Gunung Batur, mulai saat ini semoga engkau menjadi peminta-minta dan menjadi cemohan orang lain, serta kehidupanmu serba kekurangan, tidak ada sumber air dan menjadi bangsa pengemis sepanjang hidupmu, demikian kutukan Ratu Ayu Mas yang sangat tersinggung.”

Perjalanan dilanjutkan dan turun sampaidipinggirlaut, beberapa orang dilihatnyamengambil air lautuntukmandidanminum, laluRatuAyu Mas, bertanyakenapameminum air laut, lalu orang itumenjawab; bahwadisinisudahtidakada air, RatuAyuSangatibamelihatkeadaandemikian, air dalamlabuditeteskandiatasbatu, lalu air keluardaridalambatu, danwargadisanamenyerahkanungsatu ringgit sebagaiimbalankepadaRatuAyu Mas Mmbah, beliaubersabdakemudianharitempatinibernama Batu ringgit. Perjalanandilanjutkan, karenalelahbeliauberistirahat, beberapa orang dilihatjugamengambil air laut, Ratu Mas menawarkan air, namun karena bau busuk dan badan orang tua itu, tak satupun yang mau membeli airnya,akhirnya beliau berhenti untuk sementara di tepi laut, di tempat tersebut berdiri Pura Gerombong sekarang;karena lelahnya, Ratu AyuMas, lalu mandi di tepi laut dan mengunakan air yang beliau bawa untuk diminum,daerah ini kelak bernama Pangojogan (tempat tinggal sementara) dan sekarang di tempat tersebut berdiri Pura Pagonjongan di Desa Sambirenteng/Desa Gretek.

Perjalanan Ratu Ayu dilanjutkan menuju daerah barat, kemudian ditawarkan air itu kepada penduduk Panjingan, di daerah Panuktukan Desa Les, kecamatan Tejakula; Sekarang di tempatini berdiri Pura Puseh Desa Pakraman Les dengan berbagai peninggalan purbakalanya. Ketika itu penduduk Panjingan berniat membeli air dengan dua kepeng, yaitu satu kepeng untuk membayar air dan satu kepeng dengan menggadaikan sabit besar (tah), sehingga hanya membayar dengan satu kepeng. Ratu Ayu  lalu berkata, “untuk mengingat bahwa Tuan membeli air dengan menggadaikan  Sabit (Tah / bhs. Bali). maka di tempat ini akan ada mata air yang kadang-kadang mengeluarkan air, kadang-kadang tidak dan kelak tempat ini dinamakan Yeh Tah di wilayah Desa Pakraman Les; dengankesepakatan satunya karena membayar tunai dengan satu kepeng dan dua ekor kerbau,maka diberi nama Yeh Mamph (air terjun), seperti namanya di Yeh Mambah, dari saat itu beliau diberi nama Ratu Ayu Mas Mmbah (Tirta ManikMas); Air terjun tersebut sekarang bernama Yeh Memph. Selanjutnya beliau menuju ke barat dan tiba di suatu tempat yang semula, yakni tempat orang-orang yang berasaldari Sukawana,di sana beliau menawarkan air dan penduduk membeli dengan dua kepeng; lalu Ratu Ayu Mas Mmbah berkata“Untuk mengingat bahwa waktu membeli air, maka tempat ini dinamakan Banjar Batur,sekarang bernama Banjar Tengah, karena porak poranda terkena tanah Iongsor. Pada waktu itu Ratu Ayu Mas Mmbah, berada di Desaini, penduduksangatbaikmenyambutnya, mungkinkasihan, diberikanmakanandantempatmenginap, karenakebaikanmasyarakatdisinilaluRatuAyuberkata “sejak saat itu status tuan saya naikkan yang semula menjadi abdi-kaula dan setelah datang menjadi bersinar; sehingga kelak desa ini diberi nama Teja-kula (abdi yang bersinar)”. Sebagai bayarannya setiap tahun harus membayar upeti ke Tempatku (Ratu Ayu Mas Mmbah) di Toya Manik Muncar, di samping membayar dengan dua kepeng, serta satos. (Sampai sekarang di Pura Puseh Desa Pakraman TejakuIa dimuliakan Ida Bhatari Dewi Danuh atau Palinggih Ida Bhatara Batur berupa palinggih Meru Tumpang Lima).

Penjualan air dilanjutkan ke barat dan rupanya mendapat sambutan penduduk dengan membeli air dengan tiga kepeng. Namun, ke gayung dimasukkan ke dalam labunya, ternyata berisi beberapa jentik (temiluk=kilang-kilung), maka tiba-tiba penduduk membatalkan membeli air dan akan tetap menggunakan air sumur; Beliau berkata; demikian tuan menghina saya, dan tuan tak tahu saya Betari tampurhyang, karena kesombongan kalian, semoga sumur kalian tetap dalam (dalem=bhsdalam Bahasa Bali berartiDalem) sumur yang dibuatakanairnyasangatdalemataujauhdibawah  dan desa ini berubah menjadi “Buhundalem” yang artinya, “buhun dalem adalah dalam, kini desa tersebut bernama Bondalem, Kecamatan Tejakula, Kabupten Buleleng.

Perjalanan selanjutnyalagikearahbarat, sampailahdionggokanbatu, lalubeliauberhentisejenak, air didalamlabumuncratseperti orang berludah (bhs Bali Mekecuh), air yang memuncaritumenimpabatudanmenetes di onggokan batu, air itulaludisebutToyamekecuh; sehinggakelakkemudianhari daerah ini bernama ponjok batu, batu makcuh, dan akhirnya sampailah di daerah Bukti, dilihat orang mengembalakerbaudansapi, yang maumencariair, laluditanyaolehRatuAyu, hendakkemanamembawasapid an kerbaunya, dijawabpertanyaanRatuAyu, maumencarikan air untukmeminumkangembalaanini; kalua disinibisaada air kami hadiahkankerbaudansapisatuekor, RatuAyumenuangkan air  yang ada di dalamlabu dengan ucapan semoga air ini menjadi inih;(yeh inih) dan tidak berguna untuk pertanian, Lama kelamaan daerahini akanbernama Yeh Sanih atau air sanih; kerbaudansapihadiahdaripengembaladimasukkankedalambumbung.

Ida Ratu Ayu Mas Mmbah nelanjutkan perjalanannya dan sampaiIah di daerah Kubutambahan, kerbaudansapi yang beliaumasukkankedalambumbungkeluar, untukmencari air, tetapidisanatidakada air, lalu di tuangkannya seisi labu yang beliau bawa untuk memberikan air, air lalumuncuerapatempat; danbebKerbau yang beliau dapatkan di Banjar Panjingan juga ikut berebut air yang berada dibeberapa tetes air atautempat air;tempat in diberinama Pura Puseh Penusuan atau sekarangdikenalnya dengan nama Pura Panegil Dharma. Air yang keluar tersebut sampai sekarang kalau digunakan untuk mandi dan keperluan Iainnya menurut kepercayaan penduduk disini harus ada sapidankerbau yang mandi; Jadi, masyarakat, sapi dankebau rmandi secara bersamaan di kolam tersebut. Ada satu kerbau beliau sedang mekipu (mandi dikubangan) di bunuh oleh penduduk setempat. Daerah ini sampai sekarang bernama Pengipuan di Desa Kubutambahan, Karena kerbau tersebut di bunuh, maka Ida Bhatari Tampurhyang berkata ” hai penduduk disini, supaya kau selamat, maka setiap ada upacara di Pura tempat stanaku; kau harus menghaturkan satu ekor kerbau dan atos untuk pengganti kerbau yang sudah kau sembelih”.Laluperjalanandilanjutkansampailahpadasuatutempat yang adabatupipihsepertitikar, dantanamandisanasemuapadalayudankebanyakansudahmati, karenalelahnyalalubeliauberistirahatdiatasbatutersebut, labu yang duabuahbeliauletakkandisamping, beliautidursangatpulasnyasampailabuitutersentuh, keluar air mengalir, semuatanamantersiram; tanamantersebuthidupkembali, setelahbeliauterbangundanmelihatkeadaandemikianlalubeliaubersabda, tempatininantibernamaRatuPingit, sekarangdibangunPurabernamaPuraRatuPingitdan Wilayah inikelakbernamaBulihansekarangmenjadiDesaBuliyan di kecamatanSawandaerahSingaraja.

SetelahkejadiantersebutRatuAyu Mas Mmbah, melanjutkanperjalanan yang sangat melelahkan masuk hutan dan tebing, di tempat itubeliau seperti ngedumel dalam Bahasa bali tembling, lalubeliau geletakkan labutersebut, menetes keluar air itu, kemudian menjadidanu, RatuAyu sangat terkejut dan berkata, danu ini kelak bernamaTamblingan karena berasal daripenyesalan atau tembeling. Perjalanan dilanjutkan lagi beliau tersandung, labu yang RatuAyu bawa menetes di tanah lalumuncul air yang bening, dan tempat itu beliau sebutkan sebagai TirtaHening.Perjalanan dilanjutkan lagi dan ditempat ini beliau melihat tanaman sayuran dan yang merambat mulai layu, lalubeliau siram sedikit, tanaman itu menjadi tumbuh dan air yang Ratu Ayau tuangkan memenuhi lembah tersebut danbeliau bersabda danu ini kelak bernama danau Buyan asal kata dari Buliyan dan tempat yang  dipenuhi air kelah bernama desa benyah. Perjalanan lagi dilanjutkan sampailah ditempat yang tidak terlalu jauh dari danu buliyan; kedua labu yang beliau bawa sangat berat sampai terjatuh dan airnya  keluar sangat banyak sampai memenuhi lembah tersebut, labu yang dua tersebut menyerupai dua buah gundukan ditengah danau, lalu beliau berkata danu ini aku beri nama danu beratan bersal dari kata berat atau baat dalam Bahasa bali; setelah beliau merenung sebentar turunlan Sanghyang Narayana atau Hari Bhawanaatau Dewa Wisnulalu bersabda ” wahaiRatu Ayu, karena engkau telah berasil membawa air danmenyebarkan keseluruh wilayah ini, sekarang aku kembalikan ujudnyu sepert isemula, dan dari saat sekarang aku anugrahkan nama Bhatari Dewi Danuh; dan tempat labuini yang menjadi gundukan ini kelak menjadi tempat Bhatari Dewi Danuh dan Istanaku Dewa Wisnu; dan tempatasal-usulmu tetap bernamaTirtaManik Muncar dan yang berstana di sana juga aku Dewa Wisnu dan Ratu AyuManik Muncar dan desatersebut bernama BalaTandingan; sekarang menjadi Desa Blandingan – KecamatanKintamani – KabupatenBangli.