PURA MANIK MUNCAR

Disusun dan digambar oleh Ida Shri Bhawati  Dalem Murti Nawa Natha

Kedhatuan Kawista – Belatungan – Pupuan – Tabanan

 

Om Awighnamastu namo siddhi,

Semoga menemukan kebahagiaan dan kesempurnaan,

 

Pada jaman dahulu kala Gunung Tampur Hyang adalah Gunung berapi yang sangat aktiv, disebut dalam purana adalah dapur api yang membakar roh-roh jahat, tempat semua roh-roh jahat dibakaratau disucikan dalam lontar disebut Hyang Aghni cala. Pada tahun “wak sasi wak “ meletus gunung ini dengan dahsyatnya disebut Mmbah ghni ludira, banyakkorban di Bali, hanya  ada beberapa orang yang masih hidup, serta bhumi Bali mengalami kekeringan yang sangat hebat, sumber-sumber air tidak ada, manusia yang menempati Bali terpaksa mengungsi ke pinggir laut untuk dapat minum air laut, sangat sedihlah keadaan Bali, situasi ini mengundang keprihatinan Sanghyang Tampurhyang dengan kekuatan samadhinya keluar air muncar dari dalam belahan batu, yang diberinama Tirta Manik Muncar. Setelah air ini ada, beberapapengikut Sanghyang Tampuhyang kegirangan, serta merta meminum air tersebut  dan menjadikan kuat adanya dan demikian sakti-saktinya masyarakat disini, daerah ini lalu diberi nama oleh Sanhyang Tampurhyang “ Bala Tandingan “ dan airnya lagi ditaruh di dua  kendi labu dan Sanghyang Tampurhyang memanggil istri dan putranya yang diikuti oleh beberapa kula/abdinya menghadap Sanghyang tampurhyang, mengahaturkan sembah-bhakti, lalu berbincang-bincang bersama istri dan putranya, untuk membawa air keliling Bali, dalam perbincangan dengan istrinya yaitu I Ratu Ayu MasMmbah dan putranya I Ratu Gede Nengah menawarkan diri untuk membawa air dengan dijual untuk menguji ketulusan masyarakat Bali yang masih tersisa hidup dari bencana meletusnya Gunung Tampurhyang, diputuskan yang menjual air adalah Ratu Ayu MasMmbah, tetapi putranya memprotes bagaimana seorang wanita muda dan cantik menjual air, nanti kuatir terjadi masalah yang tidak dikehendaki, tetapi keputusan Sanghyang TampurHyang tetap yang menjual air adalah istrinya Ratu Ayu MasMmbah, dijadikan wanita tua renta  yang penuh dengan luka serta berbau busuk, dan air Tirta Manik Muncar terus mengalir menjadi besar diberi nama Danu Batur, karena dikelilingi oleh batu letusan Gunung Batur; lalu air di dalam dua buah labu (waluh), kemudian dipikul menuju arah timur laut(ngaja kanginang). Perjalanan diteruskan pada suatu tempat beliau termenung mau dijual kemana air ini, pada tempat beliau terdiam tersebut sekarang bernama pondokan mnng dan berdiri pura bernama Pura Puseh Mnng; sambil menawarkan air yang dibawanya, namun setiap menawarkan air selalu mendapat jawaban dari penduduk yang dilewati dan mengatakan untuk apa membeli air, karena disini sudah ada air laut; sampailah beliau di desa munti Gunung, untuk menawarkan air yang dibawanya, jangankan mau membeli air, tetapi justru mengejek orang wanita itu dengan ejekan menyinggung perasaan, Ratu Ayu Mas  lalu berkata : “Wahai orang Munti Gunung, engkau menghina aku, tidak tahu engkau kalau aku Bhatari Batur, istri Sanghyang Tampurhyang yang bersetana di Gunung Batur, mulai saat ini semoga engkau menjadi peminta-minta dan menjadi cemohan orang lain, serta kehidupanmu serba kekurangan, tidak ada sumber air dan menjadi bangsa pengemis sepanjang hidupmu, demikian kutukan Ratu Ayu Mas yang sangat tersinggung.”

Perjalanan dilanjutkan dan turun sampaidipinggirlaut, beberapa orang dilihatnyamengambil air lautuntukmandidanminum, laluRatuAyu Mas, bertanyakenapameminum air laut, lalu orang itumenjawab; bahwadisinisudahtidakada air, RatuAyuSangatibamelihatkeadaandemikian, air dalamlabuditeteskandiatasbatu, lalu air keluardaridalambatu, danwargadisanamenyerahkanungsatu ringgit sebagaiimbalankepadaRatuAyu Mas Mmbah, beliaubersabdakemudianharitempatinibernama Batu ringgit. Perjalanandilanjutkan, karenalelahbeliauberistirahat, beberapa orang dilihatjugamengambil air laut, Ratu Mas menawarkan air, namun karena bau busuk dan badan orang tua itu, tak satupun yang mau membeli airnya,akhirnya beliau berhenti untuk sementara di tepi laut, di tempat tersebut berdiri Pura Gerombong sekarang;karena lelahnya, Ratu AyuMas, lalu mandi di tepi laut dan mengunakan air yang beliau bawa untuk diminum,daerah ini kelak bernama Pangojogan (tempat tinggal sementara) dan sekarang di tempat tersebut berdiri Pura Pagonjongan di Desa Sambirenteng/Desa Gretek.

Perjalanan Ratu Ayu dilanjutkan menuju daerah barat, kemudian ditawarkan air itu kepada penduduk Panjingan, di daerah Panuktukan Desa Les, kecamatan Tejakula; Sekarang di tempatini berdiri Pura Puseh Desa Pakraman Les dengan berbagai peninggalan purbakalanya. Ketika itu penduduk Panjingan berniat membeli air dengan dua kepeng, yaitu satu kepeng untuk membayar air dan satu kepeng dengan menggadaikan sabit besar (tah), sehingga hanya membayar dengan satu kepeng. Ratu Ayu  lalu berkata, “untuk mengingat bahwa Tuan membeli air dengan menggadaikan  Sabit (Tah / bhs. Bali). maka di tempat ini akan ada mata air yang kadang-kadang mengeluarkan air, kadang-kadang tidak dan kelak tempat ini dinamakan Yeh Tah di wilayah Desa Pakraman Les; dengankesepakatan satunya karena membayar tunai dengan satu kepeng dan dua ekor kerbau,maka diberi nama Yeh Mamph (air terjun), seperti namanya di Yeh Mambah, dari saat itu beliau diberi nama Ratu Ayu Mas Mmbah (Tirta ManikMas); Air terjun tersebut sekarang bernama Yeh Memph. Selanjutnya beliau menuju ke barat dan tiba di suatu tempat yang semula, yakni tempat orang-orang yang berasaldari Sukawana,di sana beliau menawarkan air dan penduduk membeli dengan dua kepeng; lalu Ratu Ayu Mas Mmbah berkata“Untuk mengingat bahwa waktu membeli air, maka tempat ini dinamakan Banjar Batur,sekarang bernama Banjar Tengah, karena porak poranda terkena tanah Iongsor. Pada waktu itu Ratu Ayu Mas Mmbah, berada di Desaini, penduduksangatbaikmenyambutnya, mungkinkasihan, diberikanmakanandantempatmenginap, karenakebaikanmasyarakatdisinilaluRatuAyuberkata “sejak saat itu status tuan saya naikkan yang semula menjadi abdi-kaula dan setelah datang menjadi bersinar; sehingga kelak desa ini diberi nama Teja-kula (abdi yang bersinar)”. Sebagai bayarannya setiap tahun harus membayar upeti ke Tempatku (Ratu Ayu Mas Mmbah) di Toya Manik Muncar, di samping membayar dengan dua kepeng, serta satos. (Sampai sekarang di Pura Puseh Desa Pakraman TejakuIa dimuliakan Ida Bhatari Dewi Danuh atau Palinggih Ida Bhatara Batur berupa palinggih Meru Tumpang Lima).

Penjualan air dilanjutkan ke barat dan rupanya mendapat sambutan penduduk dengan membeli air dengan tiga kepeng. Namun, ke gayung dimasukkan ke dalam labunya, ternyata berisi beberapa jentik (temiluk=kilang-kilung), maka tiba-tiba penduduk membatalkan membeli air dan akan tetap menggunakan air sumur; Beliau berkata; demikian tuan menghina saya, dan tuan tak tahu saya Betari tampurhyang, karena kesombongan kalian, semoga sumur kalian tetap dalam (dalem=bhsdalam Bahasa Bali berartiDalem) sumur yang dibuatakanairnyasangatdalemataujauhdibawah  dan desa ini berubah menjadi “Buhundalem” yang artinya, “buhun dalem adalah dalam, kini desa tersebut bernama Bondalem, Kecamatan Tejakula, Kabupten Buleleng.

Perjalanan selanjutnyalagikearahbarat, sampailahdionggokanbatu, lalubeliauberhentisejenak, air didalamlabumuncratseperti orang berludah (bhs Bali Mekecuh), air yang memuncaritumenimpabatudanmenetes di onggokan batu, air itulaludisebutToyamekecuh; sehinggakelakkemudianhari daerah ini bernama ponjok batu, batu makcuh, dan akhirnya sampailah di daerah Bukti, dilihat orang mengembalakerbaudansapi, yang maumencariair, laluditanyaolehRatuAyu, hendakkemanamembawasapid an kerbaunya, dijawabpertanyaanRatuAyu, maumencarikan air untukmeminumkangembalaanini; kalua disinibisaada air kami hadiahkankerbaudansapisatuekor, RatuAyumenuangkan air  yang ada di dalamlabu dengan ucapan semoga air ini menjadi inih;(yeh inih) dan tidak berguna untuk pertanian, Lama kelamaan daerahini akanbernama Yeh Sanih atau air sanih; kerbaudansapihadiahdaripengembaladimasukkankedalambumbung.

Ida Ratu Ayu Mas Mmbah nelanjutkan perjalanannya dan sampaiIah di daerah Kubutambahan, kerbaudansapi yang beliaumasukkankedalambumbungkeluar, untukmencari air, tetapidisanatidakada air, lalu di tuangkannya seisi labu yang beliau bawa untuk memberikan air, air lalumuncuerapatempat; danbebKerbau yang beliau dapatkan di Banjar Panjingan juga ikut berebut air yang berada dibeberapa tetes air atautempat air;tempat in diberinama Pura Puseh Penusuan atau sekarangdikenalnya dengan nama Pura Panegil Dharma. Air yang keluar tersebut sampai sekarang kalau digunakan untuk mandi dan keperluan Iainnya menurut kepercayaan penduduk disini harus ada sapidankerbau yang mandi; Jadi, masyarakat, sapi dankebau rmandi secara bersamaan di kolam tersebut. Ada satu kerbau beliau sedang mekipu (mandi dikubangan) di bunuh oleh penduduk setempat. Daerah ini sampai sekarang bernama Pengipuan di Desa Kubutambahan, Karena kerbau tersebut di bunuh, maka Ida Bhatari Tampurhyang berkata ” hai penduduk disini, supaya kau selamat, maka setiap ada upacara di Pura tempat stanaku; kau harus menghaturkan satu ekor kerbau dan atos untuk pengganti kerbau yang sudah kau sembelih”.Laluperjalanandilanjutkansampailahpadasuatutempat yang adabatupipihsepertitikar, dantanamandisanasemuapadalayudankebanyakansudahmati, karenalelahnyalalubeliauberistirahatdiatasbatutersebut, labu yang duabuahbeliauletakkandisamping, beliautidursangatpulasnyasampailabuitutersentuh, keluar air mengalir, semuatanamantersiram; tanamantersebuthidupkembali, setelahbeliauterbangundanmelihatkeadaandemikianlalubeliaubersabda, tempatininantibernamaRatuPingit, sekarangdibangunPurabernamaPuraRatuPingitdan Wilayah inikelakbernamaBulihansekarangmenjadiDesaBuliyan di kecamatanSawandaerahSingaraja.

SetelahkejadiantersebutRatuAyu Mas Mmbah, melanjutkanperjalanan yang sangat melelahkan masuk hutan dan tebing, di tempat itubeliau seperti ngedumel dalam Bahasa bali tembling, lalubeliau geletakkan labutersebut, menetes keluar air itu, kemudian menjadidanu, RatuAyu sangat terkejut dan berkata, danu ini kelak bernamaTamblingan karena berasal daripenyesalan atau tembeling. Perjalanan dilanjutkan lagi beliau tersandung, labu yang RatuAyu bawa menetes di tanah lalumuncul air yang bening, dan tempat itu beliau sebutkan sebagai TirtaHening.Perjalanan dilanjutkan lagi dan ditempat ini beliau melihat tanaman sayuran dan yang merambat mulai layu, lalubeliau siram sedikit, tanaman itu menjadi tumbuh dan air yang Ratu Ayau tuangkan memenuhi lembah tersebut danbeliau bersabda danu ini kelak bernama danau Buyan asal kata dari Buliyan dan tempat yang  dipenuhi air kelah bernama desa benyah. Perjalanan lagi dilanjutkan sampailah ditempat yang tidak terlalu jauh dari danu buliyan; kedua labu yang beliau bawa sangat berat sampai terjatuh dan airnya  keluar sangat banyak sampai memenuhi lembah tersebut, labu yang dua tersebut menyerupai dua buah gundukan ditengah danau, lalu beliau berkata danu ini aku beri nama danu beratan bersal dari kata berat atau baat dalam Bahasa bali; setelah beliau merenung sebentar turunlan Sanghyang Narayana atau Hari Bhawanaatau Dewa Wisnulalu bersabda ” wahaiRatu Ayu, karena engkau telah berasil membawa air danmenyebarkan keseluruh wilayah ini, sekarang aku kembalikan ujudnyu sepert isemula, dan dari saat sekarang aku anugrahkan nama Bhatari Dewi Danuh; dan tempat labuini yang menjadi gundukan ini kelak menjadi tempat Bhatari Dewi Danuh dan Istanaku Dewa Wisnu; dan tempatasal-usulmu tetap bernamaTirtaManik Muncar dan yang berstana di sana juga aku Dewa Wisnu dan Ratu AyuManik Muncar dan desatersebut bernama BalaTandingan; sekarang menjadi Desa Blandingan – KecamatanKintamani – KabupatenBangli.

Teori Belajar Vygotsky, Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.

 

Menurut pandangan konstruktivisme tentang belajar, individu akan
menggunakan pengetahuan siap dan pengalaman pribadi yang telah dimilikinya
untuk membantu memahami masalah atau materi baru. King (1994)
menyatakan bahwa individu dapat membuat inferensi tentang informasi baru
itu, menarik perspektif dari beberapa aspek pada pengetahuan yang
dimilikinya, mengelaborasi materi baru dengan menguraikannya secara rinci, dan
menggeneralisasi hubungan antara materi baru dengan informasi yang telah ada
dalam memori siswa. Aktivitas mental seperti inilah yang membantu siswa
mereformulasi informasi baru atau merestrukturisasi pengetahuan yang telah
dimilikinya menjadi suatu struktur kognitif yang lebih luas/lengkap sehingga
mencapai pemahaman mendalam

 

Perkembangan manusia adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya, yang merupakan suatu proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran yang melibatkan pembelajaran dengan menggunakan temuan-temuan masyarakat. Perkembangan kognitif sosial anak merupakan hal penting untuk diperhatikan, karena merupakan kawasan yang membutuhkan pemrosesan yang sangat serius dalam membentuk karakter dalam rangka meningkatkan potensi ingatan dan penalaran yang lebih baik. Untuk memaksimalkan perkembangan, seharusnya anak bekerja dengan teman yang lebih terampil (lebih dewasa) yang dapat memimpin secara sistematis dalam memecahkan masalah yang lebih kompleks.

 

Lev Vygotsky adalah tokoh pendidikan yang melihat bagaimana pembelajaran itu terjadi dipandang dari sisi sosial. Perkembangan kognitif dan bahasa anak-anak tidak berkembang dalam suatu situasi sosial yang hampa. Lev Vygotsky (1896-1934), seorang psikolog berkebangsaan Rusia, mengenal poin penting tentang pikiran anak ini lebih dari setengah abad yang lalu. Teori Vygotsky mendapat perhatian yang makin besar ketika memasuki akhir abad ke-20.

 

Sezaman dengan Piaget, Vygotsky menulis di Uni Soviet selama 1920-an dan 1930-an. Namun, karyanya baru dipublikasikan di dunia Barat pada tahun 1960-an. Sejak saat itulah, tulisan-tulisannya menjadi sangat berpengaruh. Vygotsky adalah pengagum Piaget. Walaupun setuju dengan Piaget bahwa perkembangan kognitif terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berpikir yang berbeda-beda, tetapi Vygotsky tidak setuju dengan pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan membentuk gambaran realitas batinnya sendiri.

 

 

Teori Belajar Vygotsky

 

Teori Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat ingatan. Ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut. Vygotsky lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan perkembangan si anak. Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun, anak-anak tak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi seperti ingatan, berfikir dan menyelesaikan masalah. Fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi ini dianggap sebagai ”alat kebudayaan” tempat individu hidup dan alat-alat itu berasal dari budaya. Alat-alat itu diwariskan pada anak-anak oleh anggota-anggota kebudayaan yang lebih tua selama pengalaman pembelajaran yang dipandu. Pengalaman dengan orang lain secara berangsur menjadi semakin mendalam dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia. Karena itulah berpikir setiap anak dengan cara yang sama dengan anggota lain dalam kebudayaannya.

 

Menurut vygotsky (1962), keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung. Informasi tentang alat-alat, keterampilan-keterampilan dan hubungan-hubungan interpersonal kognitif dipancarkan melalui interaksi langsung dengan manusia. Melalui pengorganisasian pengalaman-pengalaman interaksi sosial yang berada di dalam suatu latar belakang kebudayaan ini, perkembangan mental anak-anak menjadi matang.

 

Meskipun pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui pengalaman sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah mengembangkan pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain.

 

Vygotsky mencari pengertian bagaimana anak-anak berkembang dengan melalui proses belajar, dimana fungsi-fungsi kognitif belum matang, tetapi masih dalam proses pematangan. Vygotsky membedakan antara aktual development dan potensial development pada anak. Actual development ditentukan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa atau guru. Sedangkan potensial development membedakan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu, memecahkan masalah di bawah petunjuk orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.

 

Menurut teori Vygotsky, Zone of proximal developmnet merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.

 

Maksud dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak. Ketika siswa mengerjakan pekerjaanya di sekolah sendiri, perkembangan mereka kemungkinan akan berjalan lambat. Untuk memaksimalkan perkembangan, siswa seharusnya bekerja dengan teman yang lebih terampil yang dapat memimpin secara sistematis dalam memecahkan masalah yang lebih kompleks.

 

Teori Vygotsky yang lain adalah “scaffolding“. Scaffolding merupakan suatu istilah pada proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun anak-anak melalui Zone of proximal developmentnya.

 

Scaffolding adalah memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap – tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri

 

 

Penerapan Teori Belajar Vygotsky Dalam Interaksi Belajar Mengajar

 

Penerapan teori belajar Vygotsky dalam interaksi belajar mengajar mungkin dapat dijabarkan sebagai berikut :

 

1. Walaupun anak tetap dilibatkan dalam pembelajaran aktif, guru harus secara aktif mendampingi setiap kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoritis, ini berarti anak-anak bekerja dalam Zone of proximal developmnet dan guru menyediakan scaffolding bagi anak selama melalui ZPD.

 

2. Secara khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh penting pada perkembangan kognitif anak, kerja kelompok secara kooperatif tampaknya mempercepat perkembangan anak.

 

3. Gagasan tentang kelompok kerja kreatif ini diperluas menjadi pengajaran pribadi oleh teman sebaya (peer tutoring), yaitu seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal dalam pelajaran. Satu anak bisa lebih efektif membimbing anak lainnya melewati ZPD karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu sehingga bisa dengan mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan scaffolding yang sesuai.

 

 

Pembelajaran Kooperatif

 

Metode Pembelajaran Kooperatif adalah suatu metode pembelajaran yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham sosial. Pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

 

Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning”, bahwa metode pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan, untuk itu harus diterapkan lima unsur metode pembelajaran kooperatif yaitu :

 

1.Saling ketergantungan positif.

 

Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.

 

 

2.Tanggung jawab perseorangan.

 

Pengajar yang efektif dalam metode pembelajaran kooperatif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.

 

3.Tatap muka.

 

Dalam metode pembelajaran kooperatif setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.

 

4.Komunikasi antar anggota.

 

Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.

 

5.Evaluasi proses kelompok.

 

Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

 

 

Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).

 

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu:

 

1.Hasil belajar akademik

 

Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa metode ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit.

 

2.Penerimaan terhadap perbedaan individu

 

Tujuan lain metode pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

 

3.Pengembangan keterampilan sosial

 

Tujuan penting ketiga dari metode pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

 

 

Peer Tutoring (Tutor Sebaya)

 

Peer Tutoring atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah tutor sebaya, ada beberapa ahli ada yang meneliti masalah ini diantaranya, adalah Edward L. Dejnozken dan David E. Kopel dalam American Education Encyclopedia menyebutkan pengertian tutor sebaya adalah sebuah prosedur siswa mengajar siswa lainnya. Tipe pertama adalah pengajar dan pembelajar dari usia yang sama. Tipe kedua adalah pengajar yang lebih tua usianya dari pembelajar. Tipe yang lain kadang dimunculkan pertukaran usia pengajar.

 

Pembelajaran dengan tutor sebaya dilakukan atas dasar bahwa ada sekelompok siswa yang lebih mudah bertanya, lebih terbuka dengan teman sendiri dibandingkan dengan gurunya. Dengan adanya tutor sebaya siswa yang kurang aktif menjadi aktf karena tidak malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas, sebagaimana diungkapkan oleh M. Saleh Muntasir bahwa dengan pergaulan antara para tutor dengan siswa-siswanya mereka dapat mewujudkan apa yang terpendam dalam hatinya, dan khayalannya. Pembelajaran dengan tutor sebaya tampaknya memudahkan siswa untuk mengeluarkan pendapat atau pikiran dan kesulitan kepada temannya sendiri ketimbang kepada guru, siswa lebih sungkan dan malu. Hal tersebut dimungkinkan karena diantara siswa telah terbentuk bahasa mereka sendiri, tingkah laku, dan juga pertanyaan perasaaan yang dapat diterima oleh semua siswa.

 

Jadi, pembelajaran dengan tutor sebaya akan membantu siswa yang kurang mampu atau kurang cepat menerima pelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor sebaya bagi siswa merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang sebenarnya merupakan kebutuhan siswa itu sendiri. Tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan, bagi tutor akan mendapat pengalaman, sedang yang ditutori akan lebih kreatif dalam menerima pelajaran.

 

Kelebihan pembelajaran dengan tutor sebaya dapat meminimalisir kesenjangan yang terjadi antara siswa yang prestasinya rendah dengan siswa yang prestasinya lebih tinggi dalam suatu kelas. Selanjutnya siswa termotivasi dalam menyelesaikan tugas dan motivasi itu diharapkan tumbuh dari terciptanya hubungan yang saling menentukan dan membutuhkan antara guru, siswa yang prestasinya tergolong tinggi dan siswa yang prestasinya rendah. Dampak semuanya ini, seorang guru dituntut untuk mempersiapkan, memaksimalkan kemampuannya tanpa harus menjadi informatory (pemberi informasi) saja tetapi guru juga berfungsi sebagai mediator, komunikator, dan fasilitator sehingga guru mampu memberikan tugas yang sesuai dengan tingkat kematangan siswa yang pada akhirnya dapat memotivasi siswa dalam peningkatan prestasi belajar.

 

 

Kesimpulan

 

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

 

1.Teori belajar Vygotsky memberi penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky menyatakan bahwa pembelajaran terjadi apabila peserta didik bekerja atau belajar dalam zone of proximal development. Zone of proximal developmnet merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya

 

2.Teori Vigotsky dalam kegiatan pembelajaran juga dikenal apa yang dikatakan scaffolding yaitu memberikan sejumlah besar dukungan kepada anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan kepada anak itu untuk mengambil tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu melakukannya sendiri

 

3.Bentuk penerapan teori belajar Vygotsky adalah melalui metode pembelajaran kooperatif dan metode pembelajaran peer tutoring (tutor sebaya).

 

4.Metode Pembelajaran Kooperatif adalah suatu metode pembelajaran yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih

 

5.Pembelajaran dengan tutor sebaya adalah sebuah prosedur siswa mengajar siswa lainnya. Pembelajaran dengan tutor sebaya dilakukan atas dasar bahwa ada sekelompok siswa yang lebih mudah bertanya, lebih terbuka dengan teman sendiri dibandingkan dengan gurunya.

Teori Belajar dari Thorndike, Teori stimulus-respon (S-R)

Edward Lee Thorndike ialah seorang fungsionalis. Thorndike (1874-1949) mendapat gelar sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada tahun 1895, dan master dari Hardvard pada tahun 1897. Ketika di sana, Thorndike mengikuti kelasnya Williyams James dan mereka pun menjadi akrab. Thorndike menerima beasiswa di Colombia, dan dapat menyelesaikan gelar PhD-nya tahun 1898. Kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombiaa sampai pensiun tahun 1940. Thorndike berhasil menerbitkan suatu buku yang berjudul “Animal intelligence, An experimental study of associationprocess in Animal”. Buku tersebut merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, dan burung yang mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak lain sebenarnya adalah asosiasi.

Teori yang dikemukakan Thorndike dikenal dengan teori stimulus-respon (S-R). Dalam teori S-R dikatakan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (hewan, orang) belajar dengan cara coba salah (trial end error). Apabila suatu organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan mengeluarkan tingkah laku yang serentak dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu. Berdasarkan pengalaman itulah, maka pada saat menghadapi masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku mana yang harus dikeluarkannya untuk memecahkan masalah. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Sebagai contoh seekor kucing yang dimasukkan dalam kandang yang terkunci akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar, dan sebagainya sampai suatu ketika secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka dan kucing pun bisa keluar. Sejak saat itulah, kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandang yang sama.

1.Definisi Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike (Budiningsih, 2005: 21) belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Thorndike dalam teori belajarnya mengungkapkan bahwasanya setiap tingkah laku makhluk hidup itu merupakan hubungan antara stimulus dan respon, adapun teori Thorndike ini disebut teori konesionisme. Belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya. Dengan artian dengan adanya stimulus itu maka diharapkan timbul respon yang maksimal. Teori ini sering juga disebut dengan teori trial dan error dalam teori ini orang yang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya maka dapat dikatakan orang ini merupakan orang yang berhasil dalam belajar. Adapun cara untuk membentuk hubungan stimulus dan respon ini dilakukan dengan ulangan-ulangan.
Dalam teori trial dan error ini, berlaku bagi semua organisme dan apabila organisme ini dihadapkan dengan keadaan atau situasi yang baru maka secara otomatis organisme ini memberikan respon atau tindakan-tindakan yang bersifat coba-coba atau bisa juga berdasarkan naluri karena pada dasarnya disetiap stimulus itu pasti ditemui respon. Apabila dalam tindakan-tindakan yang dilakukan itu menimbulkan perbuatan atau tindakan yang cocok atau memuaskan maka tindakan ini akan disimpan dalam benak seseorang atau organisme lainnya karena dirasa diantara tindakan-tindakan yang paling cocok adalah tindakan itu, selama yang telah dilakukan dalam menanggapi stimulus adalah situasi baru. Jadi dalam teori ini pengulangan-pengulangan respon atau tindakan dalam menanggapi stimulus atau stimulus baru itu sangat penting sehingga seseorang atau organisme mampu menemukan tindakan yang tepat dan dilakukan secara terus-menerus agar lebih tajam dan tidak terjadi kemunduran dalam tindakan atau respon terhadap stimulus.
Dalam membuktikan teorinya Thorndike melakukan percobaan terhadap seekor kucing yang lapar dan kucing itu ditaruh di kandang, yang mana kandang tersebut terdapat celah-celah yang kecil sehingga seekor kucing itu bisa melihat makanan yang berada di luar kandang dan kandang itu bisa terbuka dengan sendiri apabila seekor kucing tadi menyentuh salah satu jeruji yang terdapat dalam kandang tersebut. Mula-mula kucing tersebut mengitari kandang beberapa kali sampai ia menemukan jeruji yang bisa membuka pintu kandang, kucing ini melakukan respon atau tindakan dengan cara coba-coba, ia tidak mengetahui jalan keluar dari kandang tersebut, kucing tadi melakukan respon yang sebanyak-banyaknya sehingga menemukan tindakan yang cocok dalam situasi baru atau stimulus yang ada. Thorndike melakukan percobaan ini berkali-kali pada kucing yang sama dan situasi yang sama pula. Memang pertama kali kucing tersebut dalam menemukan jalan keluar memerlukan waktu yang lama dan pastinya mengitari kandang dengan jumlah yang banyak pula, akan tetapi karena sifat dari setiap organisme itu selalu memegang tindakan yang cocok dalam menghadapi situasi atau stimulus yang ada, maka kucing tadi dalam menemukan jeruji yang menyebabkan kucing tadi bisa keluar dari kandang, ia pegang tindakan ini sehingga kucing ini dapat keluar untuk mendapatkan makanan dan tidak perlu lagi mengitari kandang karena tindakan ini dirasa tidak cocok. Akan tetapi kucing tadi langsung memegang jeruji yang menyebabkannya bisa keluar untuk makan.

2. Ciri-ciri Belajar Menurut Thorndike

Adapun beberapa ciri-ciri belajar menurut Thorndike (Kartika, 2013: 6), antara lain:
a. Ada motif pendorong aktivitas.
b. Ada berbagai respon terhadap sesuatu.
c. Ada eliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
d. Ada kemajuan reksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu.

 

3. Hukum-hukum yang Digunakan Edward Lee Thorndike
Thorndike menyatakan bahwa belajar pada hewan maupun manusia berlangsung berdasarkan tiga macam hukum pokok belajar, yaitu :

a. Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Dalam belajar seseorang harus dalam keadaan siap dalam artian seseorang yang belajar harus dalam keadaan yang baik dan siap, jadi seseorang yang hendak belajar agar dalam belajarnya menuai keberhasilan maka seseorang dituntut untuk memiliki kesiapan, baik fisik maupun psikis. Siap fisik seperti seseorang tidak dalam keadaan sakit, yang mana bisa mengganggu kualitas konsentrasi. Adapun contoh dari siap psikis adalah seperti seseorang yang jiwanya tidak lagi terganggu, seperti sakit jiwa dan lain-lain. Disamping seseorang harus siap fisik dan psikis seseorang juga harus siap dalam kematangan dalam penguasaan pengetahuan serta kecalapan-kecakapan yang mendasarinya.
Menurut Thorndike (Ayuni, 2011: 9) ada tiga keadaan yang menunjukkan berlakunya hukum ini, yaitu :
a. Bila pada organisme adanya kesiapan untuk bertindak atau berprilaku, dan bila organisme itu dapat melakukan kesiapan tersebut, maka organisme akan mengalami kepuasan.
b. Bila pada organisme ada kesiapan organisme untuk bertindak atau berperilaku, dan organisme tersebut tidak dapat melaksanakan kesiapan tersebut, maka organisme akan mengalami kekecewaan.
c. Bila pada organisme tidak ada persiapan untuk bertindak dan organisme itu dipaksa untuk melakukannya maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang tidak memuaskan.
Di samping hukum-hukum belajar seperti yang telah dikemukakan di atas, konsep penting dari teori belajar koneksionisme Thorndike adalah yang dinamakan transfer of training. Konsep ini menjelaskan bahwa apa yang pernah dipelajari oleh anak sekarang harus dapat digunakan untuk hal lain di masa yang akan datang. Dalam konteks pembelajaran konsep transfer of training merupakan hal yang sangat penting, sebab seandainya konsep ini tidak ada, maka apa yang akan dipelajari tidak akan bermakna.

b. Hukum Latihan (Law of Exercise)
Untuk menghasilkan tindakan yang cocok dan memuaskan untuk merespon suatu stimulus maka seseorang harus mengadakan percobaan dan latihan yang berulang-ulang, adapun latihan atau pengulangan perilaku yang cocok yang telah ditemukan dalam belajar, maka ini merupakan bentuk peningkatan existensi dari perilaku yang cocok tersebut semakin kuat (Law of Use). Dalam suatu teknik agar seseorang dapat mentransfer pesan yang telah ia dapat dari sort time memory ke long time memory ini dibutuhkan pengulangan sebanyak-banyaknya dengan harapan pesan yang telah didapat tidak mudah hilang dari benaknya.

c. Hukum Akibat (Law of Effect)
Hukum akibat Thorndike mengemukakan (Dahar, 2011: 18) jika suatu tindakan diikuti oleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan tindakan itu diulangi dalam situasi yang mirip akan meningkat. Akan tetapi, bila suatu perilaku diikuti oleh suatu perubahan yang tidak memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan perilaku itu diulangi akan menurun. Jadi konsekuensi perilaku seseorang pada suatu waktu memegang peranan penting dalam menentukan perilaku orang itu selanjutnya.
Thorndike mengungkapkan bahwa organisme itu sebagai mekanismus yang hanya bertindak jika ada perangsang dan situasi yang mempengaruhinya. Dalam dunia pendidikan Law of Effect ini terjadi pada tindakan seseorang dalam memberikan punishment atau reward. Akan tetapi dalam dunia pendidikan menurut Thorndike yang lebih memegang peranan adalah pemberian reward dan inilah yang lebih dianjurkan. Teori Thorndike ini biasanya juga disebut teori koneksionisme karena dalam hukum belajarnya ada “Law of Effect” yang mana di sini terjadi hubungan antara tingkah laku atau respon yang dipengaruhi oleh stimulus dan situasi dan tingkah laku tersebut mendatangkan hasilnya (effect).
Selain hukum pokok belajar tersebut di atas, masih terdapat hukum subside atau hukum-hukum minor lainnya, yaitu :
a. Law of Multiple Response
Supaya sesuatu respons itu memperoleh hadiah atau berhasil, maka respons itu harus terjadi. Apabila individu dihadapkan pada sesuatu soal, maka dia akan mencoba-coba berbagai cara, apabila tingkah laku yang tepat (yakni yang membawa penyelesaian atau berhasil) dilakukan maka sukses terjadi, dan proses belajar pun terjadi. Hal tersebut akan berlaku sebaliknya.
b. Law of Attitude (Law of Set, Law of Disposition)
Respons-respons apa yang dilakukan oleh individu itu ditentukan oleh cara penyelesaian individu yang khas dalam menghadapi lingkungan kebudayaan tertentu. Sikap (attitude) tidak hanya menentukan apa yang akan dikerjakan oleh seseorang tetapi juga cara yang kiranya akan memuaskan atau tidak memuaskan baginya. Proses belajar ini dapat berlangsung bila ada kesiapan mental yang positif pada siswa
c. Law of Partial Activity (Law of Prepotency Element)
Pelajar dapat bereaksi secara selektif terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam situasi tertentu. Manusia dapat memilih hal-hal yang pokok dan mendasarkan tingkah lakunya kepada hal-hal yang pokok itu serta meninggalkan hal-hal yang kecil.
d. Law of Response by Analogy (Law of Assimilation)
Orang bereaksi terhadap situasi yang baru sebagaimana dia bereaksi terhadap situasi yang mirip dengan itu yang dihadapinya diwaktu yang lalu, atau dia bereaksi terhadap hal atau unsur tertentu dalam situasi yang telah berulang kali dihadapinya. Jadi, respons-respons selalu dapat diterangkan dengan apa yang telah pernah dikenalnya, dengan kecenderungan asli yang berespons.
e. Law of Assosiative Shifting
Bila suatu respons dapat dipertahankan berlaku dalam serangkaian perubahan -perubahan bahan dalam situasi yang merangsang, maka respons itu akhirnya dapat diberikan kepada situasi yang sama sekali baru.
4. Prinsip-prinsip Belajar yang Dikemukakan oleh Thorndike
a. Pada saat berhadapan dengan situasi yang baru, berbagai respon ia lakukan. Adapun respon-respon tiap-tiap individu berbeda-beda tidak sama walaupun menghadapi situasi yang sama hingga akhirnya tiap individu mendapatlan respon atau tindakan yang cocok dan memuaskan. Seperti contoh seseorang yang sedang dihadapkan dengan problema keluarga maka seseorang pasti akan menghadapi dengan respon yang berbeda-beda walaupun jenis situasinya sama, misalnya orang tua dihadapkan dengan perilaku anak yang kurang wajar.
b. Dalam diri setiap orang sebenarnya sudah tertanam potensi untuk mengadakan seleksi terhadap unsur-unsur yang penting dan kurang penting, hingga akhirnya menemukan respon yang tepat. Seperti orang yang dalam masa perkembangan dan menyongsong masa depan maka sebenarnya dalam diri orang tersebut sudah mengetahui unsur yang penting yang harus dilakukan demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan.
c. Apa yang ada pada diri seseorang, baik itu berupa pengalaman, kepercayaan, sikap dan hal-hal lain yang telah ada pada dirinya turut menentukan tercapainya tujuan yang ingin dicapai.
d. Orang cenderung memberi respon yang sama terhadap situasi yang sama. Seperti apabila seseorang dalam keadaan stress karena diputus oleh pacarnya dan ia mengalami ini bukan hanya kali ini melainkan ia pernah mengalami kejadian yang sama karena hal yang sama maka tentu ia akan merespon situasi tersebut seperti yang ia lakuan seperti dahulu ia lakukan.
e. Orang cenderung menghubungkan respon yang ia kuasai dengan situasi tertentu tatkala menyadari bahwa respon yang ia kuasai dengan situasi tersebut mempunyai hubungan.
f. Manakala suatu respon cocok dengan situasinya maka relatif lebih mudah untuk dipelajari.
5. Keunggulan-keunggulan Teori Belajar Koneksionisme Thorndike
1. Teori ini sering juga disebut dengan teori trial dan error dalam teori ini orang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya sehingga orang akan terbiasa berpikir dan terbiasa mengembangkan pikirannya.
2. Dengan sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan, anak didik akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga. Selain itu dengan adanya sistem pemberian hadiah, akan membuat anak didik menjadi lebih memiliki kemauan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
6. Kelemahan-kelemahan Teori Belajar Koneksionisme Thorndike
1. Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak berlaku mutlak bagi manusia.
2. Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon. Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-latihan, atau ulangan-ulangan yang terus-menerus.
3. Karena belajar berlangsung secara mekanistis, maka pengertian tidak dipandangnya sebagai suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan pengertian sebagai unsur yang pokok dalam belajar.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemempuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.

Teori Belajar Ivan Pavlov, Belajar dari Prilaku Anjing

Seorang Guru atau Pendidik sebelum mengajar harus mempunyai konsep tentang teori Belajar
Teori ini digunakan untuk memperkaya dan menambah wawasan seorang guru untuk memperkaya bagaimana membuat proses belajar yang optimal,ada interaksi antara guru dan siswa sehingga target Pembelajaran bisa tercapai

Apalagi tuntutan seorang guru masa kini, berbeda dengan tuntutan guru sebelumnya, karena siswa dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, sudah pasti mempunyai sumber belajar yang banyak, sehingga tugas guru sebagai sumber belajar dan juga fasilitator harus lebih siap.

Dalam kamus bahasa inggris behavior artinya kelakuan, tindak tanduk atau bertingkah laku dengan sopan. Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respon pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan

 

Sebagaimana kita ketahui, aliran behavioristik adalah aliran yang menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Aliran behavioristik dalam aliran psikologi belajar sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini.

 

Dalam Teori Behavioristik pandangan tetang belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.Atau dengan kata lain belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Beberapa tokoh teori belajar behaviorisme antara lain adalah Pavlov, Thorndike, Watson, Hull, Edwin Guthrie dan Skinner. Dari sekian banyak para ahli yang berkarya dalam aliran ini, salah satu diantaranya akan dijelaskan disini

 

Teori Belajar Behavioristik Menurut Ivan Pavlov

 

Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849, ia meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme.

 

Pavlov melakukan suatu eksperimen terhadap anjing. Anjing mengeluarkan air liur apabila diperlihatkan makanan.air liur yang dikeluarkan oleh anjing merupakan suatu stimulus yang diasosiasikan dengan makanan. Pavlov juga menggunakan lonceng dahulu sebelum makanan diberikan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya membunyikan lonceng saja saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula.

 

Makanan adalah rangsangan wajar, sedang lonceng adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.

 

Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

 

Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Pavlov diperoleh kesimpulan berkenan dengan beberapa cara perubahan tingkah laku yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Misalnya murid dimarahi karena ujian biologinya buruk.Saat murid untuk ujian kimia dia juga akan menjadi gugup karena kedua pelajaran tersebut saling berkaitan.

 

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus respon atau reaksinya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan pentingnya pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement/penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau pujian.

© 2017 Aryotejo Weblog

Theme by Anders NorénUp ↑